Belajar dari Nahradin, driver Blue Bird PT912. Berangkat dari rumah jam 04:30.
Menuju Cibubur Junction.
“Sudah lama di Blue Bird?” mengawali percakapan di kabin. “Sudah Pak. Sudah lama. Tapi baru.”
Uhhhuyyy! Menarik nih. Lama tapi baru. Maksudnya?
Nahradin memang sudah lama pegang limo Blue Bird. Sampai di saat dia harus mengurus dan merawat ibundanya. Di rumah sakit. Cuci darah. Cukup lama. Akhirnya Allah memanggil kembali ibundanya. Nahradin pasrah. Ikhlas. Dan bersyukur. Bisa menemani detik-detik terakhir wafat ibundanya.
So, selepas peristiwa itu, Nahradin berkelana lagi dengan mobil birunya sebagai karyawan baru. Sedih dong? Ga juga. Nahradin masih menyimpan cerita lainnya.
Cerita itu berasal dari suster yang merawat ibunya. Biasanya pas membersihkan mayat, bau darah akan tercium, tapi tidak dengan mayat ibunda Nahradin.
Aku jadi teringat cerita Pak Wiyono waktu evakuasi mayat pasca tsunami Aceh. Ada mayat seorang pemuda, dua puluhan tahun umurnya kira-kira, yang tercium wangi.
Semuanya atas izin Allah. Kita juga bisa belajar kalo ada narasumber yang bisa ditanyai. Dalam case pemuda tadi, tidak ada yang bisa ditanya, mungkin keluarganya yang lain juga sudah dipanggil Yang Maha Kuasa. Dalam case ibunda Nahradin, anaknya bisa kita tanya.
"Seingat Pak Nahradin, apa yang paling berkesan dari diri Ibu?"
"Ibu paling tidak suka ngomongin orang. Kalo ada tetangga, kerabat, paman, tante, keponakan, kakak, atau siapa saja yang ngobrol, dan pembicaraan sudah mulai mengarah ke ngomongin orang, ibu langsung sensi. "Jangan sama saya kalo ngomongin orang. Ngomong sendiri aja di tempat lain." Paling mantap lagi kalo yang mulai ngajak ngomongin orang adalah anaknya sendiri, saudara kandung Nahradin, "Udah lah. Ga usah urusin keluarga orang lain! Urusin keluarga elo sendiri!"